Satuan Acara Penyuluhan Ulkus Dekubitus
ULKUS
DEKUBITUS
Topik : Ulkus Dekubitus
Sub Topik : Pencegahan dan Penatalaksanaan Ulkus Dekubitus
Sasaran : Keluarga Tn.N
Hari/Tanggal : Sabtu 11 januari 2020
Waktu / Jam : 14.00 Wib
Tempat : Sensor
Penyuluh : Mahasiwa Magister Keperawatan UMY
1.
LATAR BELAKANG
Kita kehilangan sekitar satu gram sel kulit setiap harinya karena
gesekan kulit pada baju dan aktivitas higiene yang dilakukan setiap hari seperti
mandi. Dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini merupakan
masalah yang khusus pada lansia. Khsusnya pada klien dengan imobilitas.
Seseorang yang tidak im-mobil yang tidak berbaring ditempat tidur sampai
berminggu-minggu tanpa terjadi dekubitus karena dapat berganti posisi beberapa
kali dalam sejam. Penggantian posisi ini, biarpun hanya bergeser, sudah cukup
untuk mengganti bagian tubuh yang kontak dengan alas tempat tidur. Sedangkan
immobilitas hampir menyebabkan dekubitus bila berlangsung lama. Terjadinya
ulkus disebabkan ganggual aliran darah setempat, dan juga keadaan umum dari
penderita.
2. TUJUAN UMUM
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan
keluarga mampu merawat pasien dekubitus dengan baik dirumah, sehingga penurunan
angka kejadian ulkus dekubitus dapat berkurang.
3.
TUJUAN KHUSUS
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan
keluarga keluarga mampu:
1. Menyebut
pengertian ulkus dekubitus
2. Menyebut
etiologi ulkus dekubitus
3. Mengenali
gejala terjadinya ulkus dekubitus
4. Mengetahui
penanganan ulkus dekubitus
5. Mengetahui
pencegahan ulkus dekubitus
6. Menjelaskan
komplikasi ulkus dekubitus.
4.
MATERI (terlampir)
1.
Pengertian
Ulkus Dekubitus
2.
Etiologi
Ulkus Dekubitus
3.
Proses
Terjadinya Ulkus Dekubitus,
4.
Faktor
Penyebab Dekubitus
5.
Penampilan
Klinis Ulkus Dekubitus
6.
Pencegahan
Ulkus Dekubitus
7.
Komplikasi
Ulkus Dekubitus
5.
METODE PENYULUHAN
1.
Ceramah
2.
Tanya Jawab
6.
MEDIA
1.
PPT
7.
KEGIATAN
PENYULUHAN
|
No |
Tahapan waktu |
Kegiatan
pembelajaran |
Kegiatan
Keluarga |
|
1 |
Pembukaan ( 10 menit ) |
ü Mengucapkan salam ü Memperkenalkan diri ü Kontrak waktu ü Menjelaskan tujuan pembelajaran |
ü Menjawab salam ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Menyetujui ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Mendengarkan dan memperhatikan |
|
2 |
Kegiatan Inti ( 20 menit ) |
ü
Menjelaskan tentang pengertian Ulkus Dekubitus ü
Menjelaskan etiologi dari Ulkus Dekubitus ü
Menjelaskan Proses Terjadinya Dekubitus dan
Faktor Penyebab ulkus Dekubitus ü
Menjelaskan Penampilan Klinis Ulkus Dekubitus ü
Menjelaskan Pencegahan Ulkus Dekubitus ü
Menjelaskan
komplikasi ulkus dekubitus |
ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Mendengarkan dan memperhatikan ü Mendengarkan ü Mendengarkan
|
|
3 |
Penutup (10 menit) |
ü
Kesimpulan
dari pembelajaran ü
Salam penutup |
ü Mendengarkan ü Mendengarkan dan menjawab salam |
8. KRITERIA EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan memberikan pertanyaan
secara lisan kepada keluarga
a. Keluarga dapat menyebutkan pengertian ulkus dekubitus
b. Keluarga dapat menyebutkan penyebab ulkus dekubitus
c. Keluarga dapat menjelaskan proses terjadinya
ulkus dekubitus
d. Keluarga dapat menyebutkan penampilan klinis
ulkus decubitus
e. Keluarga dapat menyebutkan pencegahan ulkus
dekubitus
MATERI PENYULUHAN
ULKUS
DEKUBITUS
A. Pengertian
Dekubitus
Dekubitus
adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit, bahkan menembus
otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara
terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat.
Walaupun semua bagian tubuh mengalami dekubitus, bagian bawah dari tubuhlah
yang terutama beresiko tinggi dan membutuhkan perhatian khsus. Area yang biasa
terjadi dekubitus adalah tempat diatas tonjolan tulang dan tidak dilindungi
oleh cukup dengan lemak sub kutan, misalnya daerah sakrum, daerah trokanter
mayor dan spina ischiadica superior anterior, daerah tumit dan siku. Dekubitus
merupakan suatu hal yang serius, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang
tinggi pada penderita lanjut usia. Dinegara-negara maju, prosentase terjadinya
decubitus mencapai sekitar 11% dan terjadi dalam dua minggu pertama dalam
perawatan.
Usia
lanjut mempunyai potensi besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan kulit
berkaitan dengan bertambahnya usia antara lain:
·
Berkurangnya
jaringan lemak subkutan
·
Berkurangnya
jaringan kolagen dan elastin
·
Menurunnya
efesiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan
rapuh (M.Clevo
Rendi, 2012)
B. Etiolgi
Luka tekan atau dekubitus disebabkan oleh
penekanan pada daerah tonjolan tulang dalam jangka waktu yang lama. Dekubitus
merupakan injury terlokalisir pada kulit dan jaringan yang ada di bawahnya
pada daerah tonjolan
tulang, sebagai akibat
dari tekanan. Jadi kekuatan tekanan,
gaya geser, dan kekuatan gesekan merupakan kunci dalam penyebab luka tekan atau
dekubitus. Faktor penyebab dekubitus:
a. Faktor intrinsik : Penuaan
(regenerasi sel lemah), sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti kencing
manis, gizi buruk, kurang gizi, terlalu gemuk atau terlalu kurus, anemia.
b. Faktor Ekstrinsik : Kebersihan
tempat tidur, alat-alat tenun yang kusut dan kotor, tirah baring lama,
pemakaian alat-alat kesehatan, duduk yang buruk, posisi yang tidak tepat,
perubahan posisi yang kurang.
C. Proses
Terjadinya Dekubitus
Tiga
elemen yang menjadi dasar terjadinya dekubitus, yaitu :
a. Intensitas
tekanan dan tekanan yang menutupi kapiler (Landis, 2011)
b. Durasi
dan besarnya tekanan (Koziak, 2010)
c. Toleransi
jaringan (Husain, 2008)
Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antar
waktu dengan tekanan (Stortts, 1988 dalam Potter & Perry, 2005). Semakin
besar tekanan dan durasinya, maka semakin besar pula insiden terbentuknya luka
(Potter & Perry, 2005). Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi
beberapa tekanan. Tapi jika pada tekanan eksternal lebih besar dari tekanan
darah kapiler maka akan menurunkan/menghilangkan aliran darah ke jaringan
sekitarnya. Jaringan ini menjadi hipoksia ( kekurangan pasokan oksigen pada
tubuh ) sehingga terjadi cedera iskemi ( ketidakcukupan suplai darah ke
jaringan atau organ tubuh).
Jika tekanan dihilangkan pada masa sebelum
titik kritis maka sirkulasi pada jaringan akan pulih kembali, karena kulit
mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mentolerasi iskemi dari pada otot,
maka dekubitus dimulai di tulang dengan iskemi otot yang berhubungan dengan
tekanan yang akhirnya melebar ke epidermis (Maklebust, 1995 dalam Potter &
Perry, 2005).
Pembentukan luka dekubitus juga berhubungan
dengan adanya gaya gesek yang terjadi saat menaikkan posisi klien di atas
tempat tidur. Tulang punggung dan tumit merupakan area yang rentan terjadinya
dekubitus (Maklebust, 1987, dalam Potter & Perry, 2005). Efek tekanan juga
dapat terjadi akibat distribusi berat badan yang tidak merata. Jika tekanan
tidak didistribusikan secara merata pada tubuh maka tekanan jaringan yang
mendapatkan tekanan lebih banyak akan meningkat dan metabolisme sel kulit di
titik tekanan akan mengalami gangguan.
D. Pasien
yang Berisiko Mengalami Luka Dekubitus
Dekubitus
dapat terjadi pada pasien dengan gangguan mobilitas seperti stroke, fraktur
tulang belakang atau penyakit degenerative. Dekubitus juga dapat terjadi pada
pasien dengan gangguan neurologis karena imobilisasi yang lama, dan
berkurangnya kemampuan sensorik.
William (2010),
menyatakan kondisi pasien yang beresiko tinggi mengalami luka dekubitus
diantaranya:
1. Pasien yang tidak dapat bergerak (misalnya
lumpuh, sangat lemah, dipasung).
2. Pasien yang tidak mampu merasakan nyeri, karena
nyeri merupakan suatu tanda yang secara normal mendorong seseorang untuk
bergerak.
3. Pasien dengan kerusakan saraf (misalnya akibat
cedera, stroke, diabetes), penurunan kesadaran dan koma bisa menyebabkan
berkurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri.
4. Pasien yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi)
tidak memiliki lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami
pemulihan sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang penting.
5. Pasien yang menggunakan baju terlalu besar atau
terlalu kecil serta kerutan pada seprei yang bergesekan dengan kulit bisa
menyebabkan cedera pada kulit.
6. Pasien yang mengalami pemaparan kelembaban
dalam jangka panjang (karena berkeringat, air kemih atau tinja) bisa merusak
permukaan kulit dan memungkinkan terjadinya dekubitus.
E. Penampilan
Klinis Dekubitus
Karakteristik
penampilan klinis dari dekubitus dapat dibagi sebagai berikut;
1. Derajat I Reaksi peradangan masih terbatas pada
epidermis, tampak sebagai daerah kemerahan/eritema indurasi atau lecet.
2. Derajat II Reaksi yang lebih dalam lagi sampai
mencapai seluruh dermis hingga lapisan lemah subkutan, tampak sebagai ulkus
yang dangkal, degan tepi yang jelas dan perubahan warna pigmen kulit.
3. Derajat III Ulkus menjadi lebih dalam, meliputi
jaringan lemak subkutan dan menggaung, berbatasan dengan fascia dari otot-otot.
Sudah mulai didapat infeksi dengan jaringan nekrotik yang berbau.
4. Derajat IV Perluasan ulkus menembus otot,
hingga tampak tulang di dasar ulkus yang dapat mengakibatkan infeksi pada
tulang atau sendi.
Mengingat
patofisiologi terjadinya dekubitus adalah penekanan pada daerah-daerah tonjolan
tulang, haruslah diingat bahwa kerusakan jaringan dibawah tempat yang mengalami
dekubitus adalah lebih luas dari ulkusnya.
F. Pencegahan
Dekubitus
Karena
dekubitus lebih mudah dicegah daripada diobati, maka sedini mungkin harus
dicegah dengan cara :
1. Hilangkan tekanan dengan menganjurkan pasien
melakukan perubahan posisi minimal tiap 2 jam.
Contohnya :
§ Duduk dikursi roda atau diatas tempat tidur
§ Merubah posisi miring ke kanan dan ke kiri
2. Meminimalkan atau mengurangi kelembaban dengan
sering mengganti pakaian dan sprei
3. Jika pasien BAB atau BAK, bersihkan sampai
feses atau urinnya tidak tersisa atau menempel pada kulit karena akan
menyebabkan iritasi.
4. Laporkan segera apabila terdapat daerah
kemerahan pada kulit
5. Jaga agar kulit tetap kering
6. Jaga agar linen tetap kering dan bebas dari
kerutan
7. Beri perhatian khusus pada daerah – daerah yang
beresiko terjadi dekubitus seperti punggung, bagian-bagian tulang yang
menonjol, bagian pantat dan tumit kaki.
8. Masase daerah yang berisiko dekubitus dengan
menggunakan lotion atau minyak zaitun.
9. Jangan gunakan lotion pada kulit yang sudah
terkena luka dekubitus atau luka terbuka.
10. Gunakan kasur busa untuk mengurangi terjadinya
dekubitus.
G.
Komplikasi Ulkus Dekubitus
Beberapa komplikasi akibat
ulkus dekubitus yang tidak ditangani dengan baik adalah:
1.
Selulitis. Selulitis merupakan infeksi yang menyebar dari tempat munculnya
dekubitus ke lapisan dalam kulit. Gejala selulitis dapat diamati dari kulit
kemerahan dan nyeri di bagian ulkus tersebut. Tanpa pengobatan yang baik,
infeksi dari selulitis dapat menyebar ke dalam pembuluh darah, jaringan otot,
atau tulang. Jika dekubitus terjadi di bagian dekat tulang punggung lalu muncul
komplikasi selulitis, infeksi dapat menyebar ke tulang belakang dan otak.
2.
Keracunan darah. Pada penderita ulkus dekubitus dengan sistem
kekebalan yang lemah, dapat muncul infeksi yang menyebar melalui peredaran
darah. Kondisi ini disebut keracunan darah atau sepsis. Pada kasus sepsis yang
serius, sepsis akibat dekubitus dapat merusak berbagai organ sehingga
menimbulkan renjatan (shock) yang dapat menyebabkan kematian. Sepsis pada
penderita diobati menggunakan antibiotik dan perlu dilakukan pemantauan secara
ketat karena sepsis merupakan kegawatdaruratan medis.
3.
Infeksi tulang dan sendi. Infeksi dari tempat munculnya dekubitus juga
dapat menyebar ke sendi (septic arthritis) dan tulang (osteomielitis).
Komplikasi ini dapat diobati dengan menggunakan Pada infeksi yang sudah parah,
kemungkinan harus dilakukan amputasi tulang dan sendi yang terkena infeksi.
4.
Gas gangrene. Ini merupakan kondisi yang muncul akibat infeksi bakteri
Clostridium pada daerah ulkus dekubitus. Bakteri jenis Clostridium dapat hidup
dengan sedikit oksigen dan menghasilkan gas serta racun yang berbahaya bagi
penderita. Untuk mengatasi gas gangrene, dapat dilakukan debridement untuk
mengangkat jaringan mati atau amputasi pada kasus yang lebih berat.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges,
Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan : Pedoman Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Keperawatan dan Masalah Kolaboratif Ed.2. Jakarta : EGC.
Nurachman,
Elly. 2001. Pencegahan dan Perawatan Dekubittus. Jakarta : Sagung Seto.
Potter, P.A, Perry, A.G.Buku Ajar
Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik .Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa :
Renata Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.2005.
Potter, P.A, Perry, A.G.Buku Ajar
Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, Dan Praktik.Edisi 4.Volume 1.Alih Bahasa :
Yasmin Asih, dkk. Jakarta
: EGC.2005.
Rendy, M
Clevo dan Margareth TH. 2012.Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit
Dalam.Yogyakarta : Nuha Medika.
A.
Komentar
Posting Komentar